Zainal Masri-Mahasiswa STAIN Batusangkar
1. Pengertian Husnuzh-Zhan
Husnuzh-Zhan
berasal dari kata husnu dan zhan. Husnu = asal katanya hasanun artinya baik dan
zhan berarti prasangka atau praduga. Jadi menurut istilah Husnuzhan adalah kata
hati yang menganggap bahwa orang lain atau pihak lain berperilaku baik atau
anggapan seseorang yang menganggap bahwa perilaku perbuatan orang/pihak lain
adalah baik atau merugikan dan tidak mencelakakan pihak lainnya.
Husnudan
artinya adalah berbaik sangka, berperasangka baik atau dikenal juga dengan
istilah positiv thinking. Lawan katanya adalah su’udzan yang memiliki
pengertian buruk sangka, berperasangka buruk atau dikenal juga dengan istilah
negativ thinking.
Perbuatan husnudzan merupakan akhlak terpuji, sebab mendatangkan manfaat. Sedangkan perbuatan su’udzan merupakan akhlak tercela sebab akan mendatangkan kerugian. Kedua sifat tersebut merupakan perbuatan yang lahir dari bisikan jiwa yang dapat diwujudkan lewat perbuatan maupun lisan.
2. Dasar Hukum Husnudzan
Berperasangka baik atau husnudzan
hukumnya adalah mubah (boleh). Sedangkan berperasangka buruk atau su’udzan
Allah dan rasul-Nya telah melarangnya, seperti dijelaskan dalam QS. Al-hujurat,
49 : 12 yang berbunyi :
Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagaian yang lain”. (QS. Al-Hujurat, 49 : 12)
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya :“Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena berperasangka buruk itu sedusta-dusta pembicaraan (yakni jauhkan dirimu dari menuduh seseorang berdasarkan sangkaan saja)”. (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Hikmah Berbuat Husnudzan
1)
Senantiasa mensyukuri segala sesuatu
yang diberikan oleh Allah SWT
2)
Bersikap Khaof (takut) dan Raja’
(berharap) kepada Allah
3)
Optimis dan tidak berkeluh kesah
serta berputus asa
4)
Akal fikiran menjadi jernih dan
terjauhkan dari akal fikiran kotor
5)
Dicintai dan disayangi Allah SWT,
Rasul dan orang lain
6)
Terjauh dari permusuhan dan lebih dapat
mempererat silaturahmi
7)
Terjauhkan dari hal-hal yang dapat
merugikan diri sendiri dan orang lain
4. Perbuatan-Perbuatan Husnudzan
a)
Husnudzan
kepada Allah SWT
Huznuzhan
kepada Allah SWT mengandung arti selalu berprasangka baik kepada Allah SWT,
karena Allah SWT terhadap hambanya seperti yang hambanya sangkakan kepadanya,
kalau seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah SWT maka buruklah prasangka
Allah kepada orang tersebut, jika baik prasangka hamban kepadanya maka baik
pulalah prasangka Allah kepada orang tersebut. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya : Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil“. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Perbuatan-perbuatan husnudzan kepada Allah SWT yang dilakukan oleh seseorang sebagai hamba-Nya adalah sebagai berikut :
1) Bersabar
Sabar dalam
ajaran Islam memiliki pengertian yaitu tahan uji dalam menghadapi suka dan duka
hidup, dengan perasaan ridha dan ikhlas serta berserah diri kepada Allah. Sikap
sabar diperintahkan Allah SWT dalam QS Al Baqarah ; 153 yang berbunyi :
Artinya: “Hai orang-orana yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat.” (QS Al Baqarah ; 153)
Ujian dan cobaan pasti kan melintas dalam kehidupan setiap manusia. Ujian dan cobaan tersebut bentuknya beragam, hal itu bisa berupa kemudahan dan kesulitan, kesenangan dan kesedihan, sehat dan sakit, serta suka dan duka. Adakalanya hal itu dialami diri sendiri, keluarga, sahabat dan sebagainya. Ketika semuanya melintas maka yang harus dilakuakan adalah apabila itu merupakan kebahagiaan maka sukurilah dan apabila hal tersebut merupakan kesedihan maka bersabarlah. Karena pada hakekatnya Apa yang dialami manusia itu semua datangnya dari Allah dan merupakan ujian hidup yang justru akan menambah keimanan kita apabila kita ikhlas menerimanya. Allah SWT berfirman :
Artinya: “Hai orang-orana yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat.” (QS Al Baqarah ; 153)
Ujian dan cobaan pasti kan melintas dalam kehidupan setiap manusia. Ujian dan cobaan tersebut bentuknya beragam, hal itu bisa berupa kemudahan dan kesulitan, kesenangan dan kesedihan, sehat dan sakit, serta suka dan duka. Adakalanya hal itu dialami diri sendiri, keluarga, sahabat dan sebagainya. Ketika semuanya melintas maka yang harus dilakuakan adalah apabila itu merupakan kebahagiaan maka sukurilah dan apabila hal tersebut merupakan kesedihan maka bersabarlah. Karena pada hakekatnya Apa yang dialami manusia itu semua datangnya dari Allah dan merupakan ujian hidup yang justru akan menambah keimanan kita apabila kita ikhlas menerimanya. Allah SWT berfirman :
Artinya:”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS Al Baqarah : 155-156)
Apapun yang kita alami terhadap cobaan yang diberikan Allah, kita harus berbaik sangka dan kita harus tabah serta tawakal menghadapinya. Karena semakin sayang Allah kepada seorang hambanya maka Allah akan menguji orang tersebut dengan cobaan yang lebih besar, sehingga kadar keimanannya bertambah pula. Bila ia dapat bersabar menerima cobaan yang Allah berikan maka Allah akan memberikan ganjaran yang sangat mulia yaitu mendapatkan surganya Allah SWT seperti yang diuraikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh bukhari:
Artinya :Dari Anas bin Malik, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Apabila Aku menguji hambaku dengan kedua kesayangannya lalu ia bersabar maka Aku menggantikannya dengan sorga”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Oleh sebab itu, apabila seseorang gagal dalam suatu usaha, maka tidak sepantasnya menyalahkan Allah SWT atau su’udzan kepada Allah SWT dengan menggap Allah penyebab kagagalannya, Allah tidak mendengar doanya, Allah itu kikir, Allah tidak adil dan lain sebagainya. Sebaliknya dan sebaiknya adalah harus berinstrospeksi diri, barangkali kegagalan tersebut disebabkan usahanya belum sungguh-sunggu dilaksanakan secara maksimal. Kegagalan tersebut harus dijadikan pelajaran, agar pada masa yang akan datang tidak terulang lagi dan tetap selalu bersikap sabar terhadap segala ujian dan cobaan yang menimpa.
Berikut
beberapa cara agar kita bisa selalu bersikap sabar yaitu :
a. Senantiasa Berdzikir menyebut nama Allah SWT
Zikir bisa
melalui pengucapan lisan dengan memperbanyak menyebut asma Allah. Tetapi, zikir
juga bisa dilakukan dengan tindakan merenung dan memperhatikan kejadian di
sekeliling kita dengan tujuan menarik hikmah. Sehingga akhirnya sadar bahwa
segala sesuatu itu datangnya dari Allah juga. Orang yang sabar selalu mengingat
Allah dan menyebut asama Allah apabila menghadapi kesulitan dan musibah, bahkan
dalam sebuah hadits disebutkan bila seseorang berzikir dan membaca Al Qur’an
hingga ia lupa untuk meminta sesuatu kepada Allah maka Allah akan memberikan
nikmat kepadanya melebihi apa yang sebelumnya ia inginkan.
Artinya :“Dari Abu Sa’id Al Khudri ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda: Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfinnan : “Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur’an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta”. Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya“. (Hadits ditakhrij oleh Turmudzi).
Disebutkan pula dalam Firman Allah QS Ar Ra’du ayat 28 sebagai berikut:
Artinya :“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar Ra’du : 2)
Dalam ayat lain Allah menybutkan
Artinya :“Hai
orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang
sebanyak-banyaknya (QS Al Ahzab : 41)
b. Mengendalikan Emosi
Ada beberapa
cara yang dapat dilakukan untuk melatih mengendalikan nafsu atau emosi agar
bisa bersikap sabar yaitu :
a.
Melatih serta mendekatkan diri
kepada Allah SWT dengan membaca ayat-ayat suci Al Qur’an, shalat, puasa, dan
ibadah lainnya. Seseorang tidak akan terus melampiaskan berang atau
kemarahannya apabila ayat suci Al Qur’an dibaca. Oleh karena itu, bukan hal
yang aneh apabila ayat suci Al Qur’an bisa digunakan untuk melerai orang yang
bertikai. Demikian pula Rasulullah SAW memberikan resep bagaimana caranya
meredam amarah. “Berwudu’lah!” Demikian anjuran Rasulullah SAW.
b.
Menghindari kebiasaan-kebiasaan yang
dilarang agama. Orang yang mampu menghindarkan diri dari kebiasaan yang
dilarang agama, akan membuat hidupnya terbiasa dengan hal-hal yang baik dan
tidak mudah melakukan perbuatan-perbuatan keji. Orang yang tidak sabar, pada
umumnya adalah orang yang tidak perduli, bersikap kasar, berbuat keji misalnya
berjudi, minum-minuman keras, berkelahi, mengeluarkan kata-kata kotor,
menyebarkan fitnah dan masih banyak lagi.
c.
Memilih lingkungan pergaulan yang
baik. Agar bisa menjadi manusia yang memiliki sifat sabar, maka bisa diperoleh
dengan memasuki lingkungan pergaulan yang baik, yang cinta akan kebenaran,
kebaikan, dan keadilan.
2) Bersyukur
1)
Pengertaian Syukur
Syukur menurut pengertian bahasa yaitu berasal dari bahasa Arab, yang
berarti terimakasih. Syukur secara istilah yaitu berterimakasih kepada Allah
SWT dan pengakuan secara tulus hati atas nikmat dan karunua-Nya, malalui
ucapan, sikap dan perbuatan.
2)
Cara-cara bersyukur
Dengan hati.
Yaitu dengan
cara menyadari dan mengakui dengan tulus hati bahwa segala nikmat dan karunia
adalah merupakan pemberian dari Allah SWT dan tak ada selain Allah SWT yang
dapat memberikan nikmat dan karunia tersebut.
Dengan
lisan.
Yaitu dengan cara mengucapkan Alhamdulillah, mengucapkan lafal-lafal dzikir lainnya, membaca al-quran, membaca buku ilmu pengetahuan dan amal ma’ruf nahi munkar dan senantiasa nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Dengan perbuatan.
Yaitu dengan cara melaksanakan segala ibadah yang diperintahkan Allah SWT kepada kita dan menjauhi segala perbuatan yang dilarang Allah. Syukur dengan perbuatan seperti sholat, belajar, membantu orang tua, berbuat baik terhadap sesama manusia dan makhluk-makhluk Allah, dan menghormati guru.
Dengan harta benda.
Yaitu dengan cara menafkahkan dan membelanjakan harta benda yang telah Allah rizkikan kepada kita untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Hal-hal yang harus disyukuri
Nikmat jasmani
Kita harus
mensyukuri karena Allah SWT telah menciptakan kita dalam bentuk yang paling
sempurna, anatomi tubuh yang sempurna seperti bentuk hidung yang memiliki
libang di bawah, telinga yang elastis, bulu alis yang diletakkan di atas mata,
tangan yang memiliki jari-jari, kuku yang bisa mamanjang dan tidak terasa sakit
ketika dipotong, panca indra yang menjadikan segalanya menjadi terasa.
Nikmat rohani
Karunia dan
anugrah Allah SWT atas nikmat rohani yang patut disukuri adalah Allah telah
mehirkan kita, diberikannya jasad kita ruh, kalbu/hati, nafsu dan akal sehingga
kita bisa hidup, berfikir, merasakan senang, bahagia, sedih, marah dan perasaan
perasaan yang melengkapi segala kehidupan kita.
Nikmat dunia dan seisinya
Apabila kita
harus menghitung satu persatu nikmat Allah niscaya tidakalah akan terhitung jumlanya.
(QS. Al-Baqarah, 2 : 152 dan QS. Ibrahim, 14 : 34). Nikmat Allah tersebar di
darat, laut, udara. Segala yang Allah ciptakan, air, bebatuan, hamparan tanah,
gunung, hutan, api, salju, hembusan angin, sinar matahari, hujan,
tumbuh-tumbuhan, hewan, dingin, panas dan seluruh isi semesta merupakan nikmat
dari Allah SWT yang harus kita syukuri.
b) Husnudzan kepada diri kita senidiri
A.
Percaya diri
Segala
kemampuan yang kita miliki merupakan karunia Allah yang harus kita syukuri.
Oleh karena itu, kemampuan yang kita miliki harus kita manfaatkan sebaik
mungkin. Kemampuan yang kita miliki akan menjadi tidak berarti apabila kita
tidak percaya diri terhadap kemampuan yang kita miliki. Seseorang yang percaya
diri tentu akan yakin terhadap kemampuan dirinya, sehingga di berani untuk
menggunakan dan memanfaatkan kemampuannya dan mendapatkan hasil atas kemampuan
yang ia usahakannya.
B.
Gigih
Pengertian
gigih secara bahasa yaitu bersikap kerja keras. Gigis secara istilah berarti
mempunyai semangat hidup, tidak mengenal lelah, dan tidak menyerah. Gigih juga
bisa diartikan kemauan kuat seseorang dalam usaha mencapai sesuatu cita-cita.
Gigih sebagai salah satu dari akhlakul karimah sangat diperlukan dalam suatu usaha. Jika ingin mencapai suatu hasil yang maksimal, suatu usaha harus dilakukan dengan gigih, dan penuh kesungguhan hati. Setiap muslim wajib memilki sifat dan sikap gigih. Gigih dalam beribadah, gigih alam belajar untuk mencapai cita-cita dan gigih dalam mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidup. Allah SWT berfirman dalam QS Alam Nasrah : 7 yang berbunyi:
Gigih sebagai salah satu dari akhlakul karimah sangat diperlukan dalam suatu usaha. Jika ingin mencapai suatu hasil yang maksimal, suatu usaha harus dilakukan dengan gigih, dan penuh kesungguhan hati. Setiap muslim wajib memilki sifat dan sikap gigih. Gigih dalam beribadah, gigih alam belajar untuk mencapai cita-cita dan gigih dalam mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidup. Allah SWT berfirman dalam QS Alam Nasrah : 7 yang berbunyi:
Artinya:“ Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS Alam Nasrah : 7)
Ayat Al-Quran yang menyatakan tentang anjuran bersifat gigih juga dijelaskan dalam QS. Al-Jumu’ah : 10.
Dan diperintahkan pula dalam sabda Rasulullah
SAW:
اَلْمُؤْمِنُُ
الْقَوِيُ خَيْرٌ وَ اَحَبُّ اِلى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَ فِى
كُلِّ خَيْرٌ اِخْرِصْ عَلى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَ لاَ تَعْجِرْ…..رواه
مسلم
Artinya: “Mukmin yang kuat lebih bagus dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah kamu mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi kamu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa tak berdaya …” (HR Muslim)
Artinya: “Mukmin yang kuat lebih bagus dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah kamu mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi kamu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa tak berdaya …” (HR Muslim)
Orang yang
gigih tidak akan berpangku tangan dan tidak suka bermalas-malasan sehingga ia
akan merasa keberkahan hidup. Apabila setiap orang Islam memiliki sifat gigih,
niscaya hidayah dan karunia Allah akan menaungi kita. Gigihlah dalam berusaha,
Allah dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan kita, sehingga tidak
akan ada usaha kita yang sia-sia dan selalu ada perubahan pada diri kita ke arah
yang lebih baik sebagai mana sabda nabi Muhammad SAW :
Artinya :“Barang siapa yang
keadaannya hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia adalah orang yang
beruntung. Barang siapa yang keadaan hari ini seperti kemarin dia adalah orang
yang rugi, dan barang siapa yang yang keadaan hari ini lebih buruk dari hari
kemarin dia terkutuk.” (HR. Hakim
c) Husnudzan kepada Manusia (orang lain)
- Membiasakan Perilaku husnudzhan dalam kehidupan sehari-hari
- Perilaku Qana’ah
Salah satu
sebab yang membuat hidup ini tidak tentram adalah terpedayanya diri oleh
kecintaan kepada harta dan dunia. Orang yang terpedaya harta akan senantiasa
merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya, dalam dirinya lahir
sikap-sikap yang mencerminkan bahwa ia sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah
Sang Maha Pemberi rezeki.
Orang-orang
yang cinta dunia akan selalu terdorong untuk berburu segala keinginannya, meski
harus menggunakan segala cara: licik, bohong, mengurangi timbangan atau
sukatan, dan sebagainya. Ia juga tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta
hanyalah ujian.
“Maka
apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila kami berikan
kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu
hanyalah karena kepintaranku’. Sebenarnya itu adalah ujian, tapi kebanyakan
mereka itu tidak mengetahui” (QS. Az-Zumar (39):49).
Ayat
tersebut mengindikasikan adanya orang-orang yang tidak tepat dalam menyikapi
harta dan dunia yang diberikan kepadanya. Ia menyangka, ketentraman hidupnya
ditentukan oleh banyak-tidaknya harta yang ia miliki, besar-kecilnya tempat
tinggal, tinggi-rendahnya kedudukan dan pangkat yang disandangnya.
Ketentraman
hidup sesungguhnya hanya dapat diraih melalui penyikapan yang tepat terhadap
harta dan dunia, sekecil dan sebesar apa pun harta yang dimilikinya. Sikap
demikian dikenal dengan sebutan qanaah, yang berarti merasakan kecukupan dan
kepuasan atas harta dan dunia miliknya.
Orang yang
qanaah hidupnya senantiasa bersyukur. Makan dengan garam akan terasa nikmat
tiada terhingga, karena ia tidak pernah berpikir tentang daging yang tiada di
hadapannya. Makan dengan sayur lodeh atau daging akan sangat disyukurinya. Ia
pun akan berusaha untuk membagi kenikmatan yang diterimanya itu dengan
keluarga, kerabat, teman atau pun tetangganya, karena ia ingat pada orang-orang
yang hanya bisa makan dengan garam saja.
2.
Perilaku Tasamuh
Makna tasamuh
adalah sabar menghadapi keyakinan-keyakinan orang lain, pendapat-pendapat
mereka dan amal-amal mereka walaupun bertentangan dengan keyakinan dan batil
menurut pandangan, dan tidak boleh menyerang dan mencela dengan celaan yang
membuat orang tersebut sakit dan tersiksa perasaannya. Asas ini terkandung
dalam banyak ayat Al-Qur’an diantaranya, “Dan janganlah kalian mencela
orang-orang yang berdo’a kepada selain Allah, yang menyebabkan mereka mencela
Allah dengan permusuhan dengan tanpa ilmu. Demikianlah Kami menghiasi untuk
setiap umat amalan mereka, lalu Dia mengabarkan kepada apa yang mereka
lakukan”. (QS.Al-An’am:108)
REFERENSI :
- Dari Buku LKS Kelas X Semester I Yang Disusun Oleh : Drs. U.M. Yakub dan Drs. Jalaludin Juni 2004
- Dari Intenet
Semoga
Bermanfaat bagi kita semua, aminn....
Wallahu’alam
bissawab...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar